Mereka Belajar Dari Alam
(Cerita singkat perjalanan & pelajaran kehidupan selama tinggal di Kuwait)
Sejak dulu saya sangat menyukai travelling,
tak cuma bisa melihat tempat-tempat baru tapi juga karena mendapat kesempatan bisa
memahami kehidupan serta budaya masyarakat di suatu daerah atau Negara.
Kesukaan saya tesebut menumbuhkan sebuah mimpi bahwa suatu saat nanti saya
ingin tinggal dan merasakan kehidupan di luar negri.
Tawaran Pekerjaan
| sunset in kuwait |
Tawaran Pekerjaan
Suatu hari saya menerima tawaran untuk
bekerja di Kuwait, suatu Negara ditimur tengah yang sangat kurang familiar buat
saya, kecuali cerita-cerita seputar perang teluknya. Sudah tentu saya sangat
bersemangat, karena ini adalah salah satu mimpi saya sejak dulu. Disamping saya
mendapatkan penghasilan yang terbilang lumayan dibanding dengan yang didapat di
Jakarta, juga karena saya akan berada di negara baru dan belajar banyak tentang
hal-hal baru, sesuatu yang memang sangat saya sukai dan selalu saya cari.
Seperti biasanya saya mulai rajin mencari
informasi apapun tentang Kuwait baik dari teman ataupun dari internet. Semuanya
tampak indah dan mudah. Dalam hati saya berkata, saya kan sudah terbiasa travelling,
jalan ke luar negri jadi saya yakin semua akan baik-baik saja. Mungkin terlalu
naif atau sekedar meyakinkan diri, namun tak pernah terbayangkan bahwa suatu
hari nanti saya akan mengalami culture shock dan mendapat banyak pelajaran yang
sangat berharga.
Selamat Datang Di Kuwait
Dini hari di ahir bulan agustus 2007, dengan
menumpang pesawat Etihad, saya mendarat di kuwait bersama rombongan yang akan
bekerja di perusahaan yang sama. Masih lekat dalam ingatan, ketika keluar dari
bandara, kami disambut oleh cuaca panas. Yang membuat saya merasa sangat aneh
adalah, bagaimana mungkin jam 4 subuh tapi udara terasa panas menampar bahkan seperti
berada di depan api unggun? Negara macam apa ini?
Ternyata itu hanyalah sebuah sambutan selamat
datang ala Kuwait. Beberapa jam kemudian ternyata suhu di siang hari menjadi lebih
lebih kejam, sangat panas bahkan bisa mencapai 50 derajat. Buat manusia dari
Negara tropis, panas seperti ini bagaikan di neraka.
Berhubung suasana hati masih kelabu dan
belum bisa beradaptasi dengan cuaca yang sangat panas, saya lebih banyak
menghabiskan waktu di akomodasi. Selama 2 hari pertama di Kuwait, saya hanya
bisa memandang bangunan-bangunan kotak dan apapun yang ada disekitar hanya dari
balik jendela. Sambil membuka tirai yang tebal, dalam hati saya berkata, Kenapa
mobil-mobil yang berseliweran dijalan sebagian besar berwarna putih? Kenapa
gedung-gedung dan rumah-rumah berwarna krem dan kekuning-kuningan? Apa mereka
tidak tahu bahwa di dunia ini ada warna-warna lain seperti merah, hijau, biru,
pink dll?
Kejutan Setiap Hari
Setelah urusan berbagai dokumentasi keimigrasian
selesai, saya langsung mulai masuk kerja. Disana, saya bertemu dengan rekan
kerja dari berbagai bangsa. Sudah pasti, saya harus bisa beradaptasi dengan
system yang baru juga rekan-rekan kerja yang baru. Salah satu yang menyita
perhatian adalah sikap mereka pada karyawan baru.
Kenapa semua berlagak seperti senior?
seperti boss? Seperti majikan main atur sana sini. Kenapa pekerjaan sangat
banyak tetapi karyawan sangat sedikit? Kenapa mereka lebih suka bergaul dengan
sesama bangsanya? Memang sih tidak semuanya begitu tapi kenapa banyak yang over
acting?
Sambil mencoba berbesar hati, saya berusaha
tabah. Bagaimanapun hal seperti itu pasti akan terjadi dimana saja pada saat
kita memulai hari pertama bekerja di kantor baru. Tapi kalau setiap hari harus
berhadapan dengan orang-orang seperti itu, berapa lama saya bisa bertahan?
Belum habis kejutan dari rekan-rekan kerja,
saya pun dikejutkan oleh sikap dan perilaku orang arab yang menjadi customer
saya.
Kenapa orang arab tidak ramah? tak pernah
senyum dan jutek? Apa mereka gak tau senyum itu ibadah? Kenapa juga mereka
selalu terburu buru? Kenapa sangat boros? Kenapa mereka memakai pakaian yang
longgar? Kenapa wanita memakai warna hitam panjang menyapu lantai sedangkan
pria memakai jubbah warna putih? Entah berapa banyak pertanyaan-pertanyaan
tiba-tiba datang bertubi-tubi mengganggu isi kepalaku. Kadang saya juga heran sendiri,
kenapa saya begitu peduli dan buang-buang waktu memikirkan
pertanyaan-pertanyaan ini?
Dalam beberapa hari saja, saya banyak
mengalami kejadian-kejadian yang terduga. Lalu pandangan saya tentang bangsa
arab pun langsung berubah. Dahulu saya selalu terpesona dan membayangkan bahwa
daerah ini bagaikan nirwana dengan penduduk yang memancarkan aura surgawi,
tinggal di istana yang penuh dengan ribuan bunga berwarna warni. Kini ribuan
bunga itu hilang diganti dengan ribuan pertanyaan yang datang setiap hari,
berputar-putar kesana kemari mengganggu pikiranku. Tiba-tiba lamunanku terbang
ke sebuah Negara Bhineka tunggal ika, dengan penduduk yang ramah, gemah ripah
loh jinawi. Kenapa budaya nusantara begitu berbeda dengan budaya timur tengah?
Belajar Dari Alam
Suatu hari saya bertemu kawan saya seorang
Kuwaiti, setiap kali ketemu, saya tak akan mau kehilangan kesempatan untuk berdiskusi
dan menumpahkan ribuan pertanyaan yang selama ini membebani pikiran. Saya tak
sabar ingin mendapatkan jawaban yang ilmiah, jawaban yang masuk akal dan bisa
dipertanggung jawabkan secara logika.
Tetapi alih-alih mendapatkan penjelasan
yang panjang lebar disertai dalil-dalil, dia hanya berkata, “itu semua karena
alam!”.
Apa? Karena alam? Kataku dengan wajah
heran.
“Iya karena alam” katanya dengan santai.
“Karena alam bagaimana? Memangnya disuruh
sama alam begitu?” Kataku makin heran.
Tiba-tiba dia menarika nafas, pelan namun
pasti, lalu dia berkata “Kalau kamu mau melihat dan belajar memahami, kamu akan
mengerti”
Suatu kalimat singkat tapi ternyata terus dan
selalu saya ingat bahkan sampai sekarang. Melihat, belajar, mengerti, apa
maksudnya? Bagaimana hubunganya?
Sejak saat itu, saya mulai membuka
lebar-lebar tentang pikiran dan pandangan. Saya mulai rajin mengamati, dan
mencoba memahami apa yang saya lihat dari berbagai arah sudut pandang. Saya pun
terus berdiskusi dengan kawan saya tentang alam, budaya, agama, perilaku bangsa
arab dan tentang apapun yang memerlukan penjelasan langsung dari pelakunya.
Cukup lama saya mengamati, berdiskusi dan
berfikir, sampai ahirnya saya menemukan berbagai jawaban-jawaban itu. Kenapa
mereka sangat kaku dan keras? Ini karena pengaruh alam yang keras. Mereka tidak
mendapat inspirasi seperti kita yang tinggal di daerah tropis, dimana hidupnya
senantiasa dikelilingi udara segar serta pohon-pohon warna hijau, dan bunga warna
warni. Keadaan alam yang membuat kita merasa senang. Baik pria maupun wanita
merasa nyaman berada di luar rumah, bertemu dan bertegur sapa dengan sesama.
Mengapa bangsa arab memakai pakaian yang
longgar, tak lain untuk menjaga agar kulit tetap lembab. Ini adalah sikap alami
manusia untuk beradaptasi yang muncul sebagai jawaban dari tantangan alam
dengan cuaca yang sangat panas dan kering. Tak heran baju seperti ini sudah
dipakai bangsa arab lelaki dan perempuan selama nerabad-abad, tak peduli suku
dan agamanya.
Lalu pemilihan warna hitam dan putih juga sebenarnya
adalah bagian dari psikologi warna, dimana setiap warna memiliki arti dan makna
yang berbeda. Di alam yang keras, panas, dan kering, warna putih bisa
memberikan kesan tenang, baik bagi yang melihat maupun yang memakai. Oleh
karena itu pria arab memakai jubai berwarna putih, untuk mendinginkan, atau
menurunkan temperatur mood mereka.
Sedangkan para wanita memakai warna hitam yang
memberikan kesan terasing-mengambil jarak dan tidak tersentuh serta melindungi.
Lalu bagaimana jika warna itu ditukar? Wanita
yang memakai busana warna putih? Bukankah warna hitam tidak menyerap panas? Well, pernahkah terpikirkan apa yang akan terjadi
jika wanita memakai baju tipis panjang warna putih di bawah cahaya matahari yang
terang benderang? Ternyata ini pun sebenarnya adalah sebuah jawaban manusia dari
tantangan alam. Warna hitam berfungsi untuk melindungi diri dari kerasnya alam
dan juga dari pandangan manusia yang bukan muhrimnya.
Masih banyak lagi jawaban-jawaban hasil
pengamatan dan diskusi tentang perilaku bangsa arab ini. Semuanya memang sangat
masuk akal dan saling berhubungan. Saya lalu teringat sebuah teori yang
mengatakan “Keadaan alam menciptakan sebuah perilaku pada kehidupan manusia, perilaku yang dilakukan berulang-ulang dalam waktu yang lama akan
membentuk suatu kebiasaan yang disebut budaya”.
Memahami & Menghormati
Saya bersyukur bisa diberi kesempatan
tinggal di Kuwait. Disini saya tak cuma menghabiskan waktu untuk bekerja dan mencari
uang, tapi juga mencari pelajaran hidup. Saya juga menggunakan kesempatan yang
luar biasa ini untuk memahami dan belajar dari apa yang saya lihat disekitar. Saya
juga sering bertukar pikiran dengan teman diskusi yang kini bisa membuka
pikiranku tentang bangsa arab.
Seperti ungkapan tak kenal maka tak sayang,
kini saya pandangan saya tentang bangsa arab telah berubah. Jika dulu saya
begitu terpesona dengan fantasi dan dongeng-dongeng tentang bangsa arab yang
tanpa cela, kini saya menjadi lebih menghormati mereka sebagai bangsa dengan segala
kelebihan dan kekurangannya.
Memahami budaya suatu bangsa adalah salah
satu cara untuk menghindari kesalah pahaman dan benturan-benturan budaya yang
mungkin akan dialami, agar kita senantiasa saling menghargai dan menghormati
antar sesama.
Comments
Post a Comment